Kisah Mbah Sartinah Tinggal di Kuburan Hingga Harus Mengemis di Underpass



Mbah sartinah( 81 th ) namanya, menurut penuturannya kepada reporter lensa banyumas, saat diwawancara, mbah Sartinah tinggal di samping makam sekitaran pemakaman di Kelurahan Bantarsoka, Purwokerto.

Saat ditanya, Selasa, 17 Februari 2021 mengapa mengambil resiko mengemis di bawah jembatan rel kereta api atau underpass Jend. Soedirman Purwokerto, yang merupakan jalur dilarang berhenti untuk semua kendaraan, dan juga arus lalu lintas kendaran terbilang sangat ramai dan lajunya sangat kencang.

Beliau mulai menceritakan kisah hidupnya saat ditanya tentang keluarganya. Dari dulu mbah Sartinah ini memang tidak mempunyai tempat tinggal sendiri, terakhir tinggal di rumah tetangga yang sudah dianggap saudara.

Dikisahkan mbah Sartinah ini tidak mempunyai anak, suaminya sudah lama meninggal. Diusia nya yang sudah sangat sepuh itu. Dia mengeluh sering sakit2 an, masuk angin dan keluhan lainnya. Setelah beberapa lama tinggal di rumah tetangga, perasaan mba Tinah , sebutan namanya, Merasakan rasa tidak enak menjadi beban tetangga tersebut.

Akhirnya mbah Tinah memutuskan keluar dari rumah itu dan tinggal di area pemakaman kelurahan bantarsoka dengan tempat seadanya. Mbah sartinah tinggal di area pemakaman bantarsoka itu seorang diri. Tepatnya di pintu masuk pemakaman, tuturnya.

Beliau benar benar sebatang kara, saudara saudaranya sudah pada meninggal dan selama ini kebutuhan hidupnya diperoleh dari bantuan dan belas kasihan tetangganya, bahkan mbah Sartinah juga mempunyai Kartu Indonesia Sehat, atas bantuan aparat desa ditempatnya,"tuturnya.

Ketika ditanya kenapa mengemis di bawah jembatan rel kereta, beliau menjawab dengan penuh emosional..” kulo niki mboten kepenak, saben dinten dados damel tetanggi terus, dados kulo kepengin usaha golet duit piyambak ( Saya tidak enak selama ini menjadikan repot tetangganya terus, jadi saya pengin usaha cari uang sendiri ),"katanya.

Mbah sartinahmenceritakan sebenarnya terpaksa mengemis dikarenakan sering sakit sakitan dan butuh uang untuk membeli obat, padahal sudah mempunyai kartu KIS, dan tidak tau cara menggunakannya. dan terkadang ada rasa keinginan makan makanan yang diinginkan tidak bisa karena tidak mempunyai uang.

Sebelumnya Mbah Tinah terkadang meminta minta ke tetangganya tapi lama ke lamaan mbah Sartinah merasa tidak enak, karena sudah sangat sering diberi makananan. Mbah Tinah , biasanya mulai pagi menjelang siang duduk dibawah jembatan rel. sampai menjelang sore. Dari kebiasaannya yang duduk dibawah underpass banyak menarik perhatian orang yang lewat di underpass tersebut.

Akhirnya banyak orang yang merasa kasihan dan berempaty dengan memberikan uang ataupun makanan. Dan selama ini sudah 2 minggu lebih mbah Tinah setiap hari duduk duduk dibawah jembatan tersebut.

Saat ditanya kalau hujan bagaimana, mbah Tinah masuk menjawab, ya masuk ditengah tengah di bawah jembatan biar tidak terkena air hujan. Dari hasilnya sehari hari duduk duduk dibawah underpass itu. Terkadang mendapatkan uang sebesar 150 ribu tiap harinya kadang lebih, dan paling banyak yang memberikan nasi bungkus, Terkadang di hari jumat bahkan sampai melimpah banyak pemberian orang orang yang terbiasa melakukan program jumat berkah.

Dari uang yang didapat mbah Tinah biasanya untuk membeli obat obatan, dan membeli makanan yang diinginkan. Dari hasil pantaun dilapangan, disebelah mbah Tinah tidak lupa menaruh balsam untuk membaluri bagian dadanya yang teradang sakit.

Dengan banyaknya pertanyaan yang sudah saya tanyakan, mbah Tinah akhirnya bertanya balik pada saya, njenengan sinten ? ( kamu siapa ? ). Saat saya mencoba menjelaskan dan menawarkan kalau mbah Tinah tinggal di rumah jompo atau diserahkan ke dinas social untuk tinggal di panti sosial, mbah Tinah menjawab , mau mau saja.

Mudah mudahan dari kisah mbah Tinah tadi dapat menjadi perhatian dinas terkait, untuk memberikan bantuan dan memfasilitasi tinggal di rumah jompo ataupun panti social.

Hal ini juga sebagai rasa empaty dan meminimalisir resiko dengan keseharian mbah Tinah yang jalan kaki dari area pemakaman ke bawah underpass yang merupakan kawasan dilarang berhenti tersebut. Dan mbah Tinah bisa menikmati masa tuanya, dengan tenang di panti sosial. Tanpa mengingat kisah sedihnya di hari tuanya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel