Benar-Benar Bikin Geleng Kepala, Jahe kok Diimpor, Netizen: La neng Indo Ora Payu kok Malah Impor

 

Warganet benar-benar geleng kepala. Masak, Indonesia yang kaya empon-empon kok bisa-bisanya impor jahe dari Vietnam. Tak heran bila warganet berkomentar negatif pada pemerintah.

Hal ini seperti tercermin dari unggahan akun FB mak lambe Turah, Rabu (24/3/21). Sejumlah netizen berikan pendapat.

MLT: “Etdaaahhhh, jahe ko impor??”

Pipin Temi Gandi: “Karena kesalahan itu terletak pada rakyat negara ini sendiri GENGSI menjadi petani.punya tanah berhektar hektar tp dibiarin terbengkalai.”

Yopi Saputra: “Karena pejabatnya pengen nyari komisi ajaaa dari jaheee.”Gita Utari: “La jahe neng indo ora payu kok malah impor.”

Jhon Tamp: “Pengawasan harga pasar tidak terkontrol, impor menjanjikan keuntungan yg lebih menggiurkan akibat harga pasar yg tidak pernah stabil. Hehehe.”

Sebelumnya diberitakan, Badan Karantian Pertanian musnahkan 108 ton jahe yang berasal dari Myanmar dan Vietnam. Jahe impor itu dimusnahkan lantaran dianggap tidak memenuhi persyaratan karantina.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan kasus tersebut merupakan teguran bagi semua pihak. Selain karena jahe tersebut membahayakan, tapi juga statusnya yang merupakan produk impor.

“Ini adalah sebuah tamparan buruk bagi kita semua,” ujar Dedi Mulyadi, Selasa (23/3/2021).

Menurut Dedi Mulyadi, Indonesia dianugerahi oleh hamparan tanah yang luas dan subur. Bahkan banyak ditemukan lahan pemerintah yang kosong namun tidak dimanfaatkan.

Dedi mengatakan, jika semua pihak mulai dari Kementerian Pertanian, dinas pertanian provinsi, dinas pertanian kabupaten/kota, sekolah, kantor hingga pemukiman diberdayakan maka tidak perlu lagi ada komoditas impor.

“Sekarang muncul impor jahe. Kemarin waktu Pak Ketua (Komisi IV) menyampaikan itu (ada impor jahe), kepala saya sampai nyut-nyutan, masa sih jahe saja sampai impor. Nah segera ke depan kecerdasan-kecerdasan bangsa besar ini kita libatkan, agar kita tidak menjadi budak di negeri kita sendiri,” ucapnya.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas, Dedi berharap penyusunan anggaran harus didasari oleh hasil atau pencapaian produk.

“Angka-angka digit administratif itu harus menjadi produk. Sehingga dalam setiap tahun ketahuan ada kelemahan yang mendasar dalam pengelolaan negeri ini,” katanya.

Langkah lainnya, kata Dedi, saat ini pemerintah bisa mencontoh program yang diinisiasi olehnya di Purwakarta. Di sana pelajar di tengah pembelajaran daring diberikan edukasi untuk tetap produktif dengan melakukan penanaman padi gogo dan tanaman produktif lainnya di sekolah hingga rumahnya.

Ia berharap kasus impor seperti ini menjadi yang terakhir. Sebab baginya bukan hanya persoalan jahe tersebut berbahaya tapi bagaimana bangsa Indonesia tidak perlu mengimpor berbagai bahan pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Sederhana saja deh, tinggal dibuat perencanaan program 2022. Di tahun itu kebutuhan jahe dalam negeri berapa, kita tanam di mana saja, dibuat program itu (ditanam) tanah perhutani kosong, tanah ptpn kosong, tuh areal-areal yang sudah pembebasan tanahnya 30 tahun lalu tapi sampai sekarang tidak dibangun-bangun industrinya tinggal dibuat surat edaran menteri perintahkan seluruh wilayah melakukan penanaman di tanah kosong,” kata politisi Golkar ini.

Bagi Dedi pemusnahan seperti itu bukanlah sebuah prestasi. Sebab tidak menguntungkan bagi Indonesia dan justru malah mengeluarkan banyak biaya untuk acara pemusnahan.

“Pada akhirnya bukan mendatangkan untung, malah negara jadi buntung. Kenapa jadi buntung, udah jahenya masuk tidak menghasilkan apa-apa, menyerap uang negara, kemudian pedagangnya (importir) di sana sudah dapat untung, kita jangankan dapat untung malah ngeluarin uang buat tenda, uang perjalanan dinas, sewa ini itu. Janganlah jadi bangsa yang bodoh, jadilah bangsa yang cerdas. Caranya jangan sok pinter,” ujar Dedi Mulyadi.

Pemusnahan terhadap 108 ton jahe impor yang tidak memenuhi persyaratan karantina dilakukan dengan dihancurkan menggunakan alat incinerator, di Kabupaten Karawang secara simbolis yang dihadiri oleh sejumlah pihak.