Bertahan Hidup 22 Hari, Bayi Dilahirkan Tanpa Tempurung Kepala di Solo Meninggal

 

Seorang bayi laki-laki bernama Muhammad Arkan Naufal Hidayatullah di Solo, dilahirkan tanpa tempurung kepala. Naufal merupakan anak pasangan Ayu Endang Pujiati (29) dan Syarifudin Hidayatullah (31) yang lahir 22 Februari 2021 lalu di RS Brayat Minulya, Solo.

Setelah sempat bertahan hidup dengan bantuan mesin oksigen, setelah 22 hari, Naufal meninggal dunia Selasa kemarin. Sejumlah dokter memang sudah memprediksi jika Naufal tak akan bisa bertahan lama.

Namun Endang bersama suaminya tetap berupaya mengasuh dengan sepenuh hati. “Sebenarnya dokter sempat bilang kalau kemungkinan 70 persen meninggal di kandungan,” ujar Endang, Rabu (17/3).

Warga Kampung Sidorejo RT 01 RW I, Kelurahan Mangkubumen, Banjarsari, Solo itu mengaku mengetahui kondisi anaknya akan lahir tanpa tempurung kepala tersebut sejak masih janin berusia 4 bulan. Bahkan, saat itu untuk memastikan kondisi anaknya ia sampai mendatangi 4 dokter kandungan.


Baca juga : Gabung Grup BERITA KRIMINAL DAN LAKALANTAS SELURUH INDONESIA


 saya USG empat dimensi, tetapi hasilnya sama saja. Bahkan, tiga dokter di antaranya menyarankan untuk mengeluarkan saja mumpung masih kecil, kalau sudah besar kan sulit. Tetapi menurut saya empat bulan kan sudah bernyawa, sudah ditiupkan roh. Kasihan, keadaannya kan dia ingin hidup sehingga saya putuskan untuk melanjutkan,” katanya.

Menurut dokter, dikatakan Endang, kondisi bayi tersebut terjadi karena masuknya virus toksoplasmasis pada saat pembentukan janin di usia dua bulan. Meski kondisi bayinya tidak normal, ia mengatakan selama di dalam kandungan, gerakan bayi laki-laki yang lahir dengan berat 3 kg dan panjang 48 cm tersebut sangat aktif.

Meski sedih, Endang mengaku ikhlas dengan kepergian anaknya itu. Naufal meninggal dunia pada Selasa (16/3) pukul 21.00 WIB. “Kemarin sore sebetulnya sudah mulai berbeda kondisinya. Kalau biasanya disentuh tangan dan kakinya dia langsung bereaksi, tetapi kemarin sore diam saja,” terangnya.

Menurutnya, selepas Magrib kemarin, kondisi Naufal terus turun dan napasnya tersengal-sengal. Dirinya sempat melaporkan kondisi itu ke Rumah Sakit Brayat Minulya tempat bayi tersebut lahir.

“Kemudian ada dokter dan perawat yang datang untuk mengecek kondisi anak kami. Dokter sebenarnya merujuk ke RSUD dr Moewardi, tetapi semalam kondisi hujan, kami belum sempat membawa anak kami ke sana ternyata sudah tidak ada (meninggal dunia),” tuturnya.

Ia mengaku, sebelum meninggal dunia, bayinya selalu rutin dicek oleh dokter sebanyak dua kali seminggu. Hingga meninggal itu berat badannya terus mengalami penurunan, dari 3,8 kg menjadi 2,9 kg.