Pelaku Pembunuhan di Lamjabat, Banda Aceh, Mengaku Sebagai Imam Mahdi

 

Pelaku pembunuhan warga Desa Lamjabat, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, berinisial PP (21), kini telah menjalani hukuman di tahanan Mapolresta Banda Aceh.

Hingga saat ini polisi masih terus memeriksa saksi dan pelaku untuk mengetahui motif di balik peristiwa tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Banda Aceh, AKP M Ryan Citra Yudha, mengatakan, dari hasil pemeriksaan saksi-saksi termasuk orang tua pelaku, diketahui seminggu sebelum kejadian, PP mengalami perubahan perilaku dan bertingkat aneh. Bahkan, dia pernah mengaku sebagai Imam Mahdi.

“Kita mendapatkan informasi, seminggu sebelum kejadian pelaku sudah mengalami perubahan perilaku. Hal itu berdasarkan pengakuan orang tuanya, dan juga diperkuat oleh keterangan pemilik kantin tempat dia bekerja,” kata Ryan dalam konferensi pers Senin (8/3).

Dari hasil pemeriksaan handphone milik pelaku, polisi menemukan adanya percakapan melalui WA antara pelaku dengan pemilik kantin tempat ia bekerja. Komunikasi antara keduanya itu, dilakukan sehari sebelum peristiwa penusukan yang terjadi Kamis (4/3).

Pada hari tersebut pelaku juga mendatangi tempat kerjanya dengan maksud menemui pemilik kantin dan ingin curhat. Namun, kata Ryan, lucunya curhat itu semua dilakukan melalui WA padahal mereka berdua berada di kantin.

“Padahal mereka bertemu secara langsung, tetapi pelaku curhat melalui WA. Untungnya pemilik kantin ini sudah mengetahui gelagat (perilaku) aneh dari pelaku,” ujarnya.

Ryan menyebutkan, jika membaca isi curhat yang disampaikan pelaku tersebut, semuanya di luar akal sehat manusia. Kepada pemilik kantin itu, pelaku mengakui bahwa dirinya adalah seorang Imam Mahdi.

“Aku ini Imam Mahdi, tapi kalau aku bilang sama kalian, kalian menganggap aku memang orang sakit jiwa. Tolong aku, aku enggak mau ikutin kisah mati bunuh diri,” sebut Ryan, membacakan salah satu isi pesannya yang dikirim ke pemilik kantin tempat ia bekerja.

“Inilah yang terjadi, ini H-1 loh sebelum kejadian. Artinya memang sudah ada perubahan perilaku sebelumnya. Itu yang ingin kita sampaikan ke rekan-rekan media. Tetapi kita belum bisa mengatakan dia gila, makanya kita harus cek kondisi kesehatan jiwanya,” ungkap Ryan.

Pelaku sudah empat kali mengikuti pemeriksaan. Namun, saat ditanyai petugas tentang motif aksinya itu, keterangan pelaku selalu berbeda-beda. Sehingga, sampai saat ini polisi belum bisa mengambil kesimpulan.

“Jadi saat kita periksa menanyakan kenapa melakukan hal itu, dia (pelaku) bilang mendengar ada suara bisikan, ada yang ngomong sama dia. Kemudian juga mengatakan rumahnya sedang dikepung oleh warga, dia mau dibunuh dan segala macam. Jadi keterangannya itu berubah-ubah,” sebut Ryan.

Ryan menyebutkan, petugas juga telah melakukan pemeriksaan tes narkoba terhadap pelaku dan hasilnya negatif.

“Saat dicek urine semuanya negatif narkoba, baik ganja maupun sabu, dan lainnya,” tutur Ryan.

Pelaku Sering Bangun Malam

Berdasarkan keterangan orang tua pelaku berinisial AWL (60), sejak sepekan terakhir anaknya tersebut juga sering terbangun tengah malam dan selalu membangunkannya.

“Tiap malam dibangunin oleh pelaku. Sambil mengatakan, Pak bangun-bangun, sudah ada yang kepung kita dari pasukan Kopassus. Begitu juga malam-malam berikutnya,” kata Ryan.

Melihat gelagat aneh itu, AWL pada Rabu (3/3) berinisiatif membawa anaknya ke rumah sakit. Akan tetapi, pelaku menolak dan mengaku bahwa dirinya sehat dan baik-baik saja.

“Tidak ada rekam medis mengalami gangguan jiwa. Orang tua pelaku mengatakan kalau perubahan itu terjadi sejak seminggu terakhir, sedangkan sebelumnya masih normal,” ujar Ryan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel